Selasa, 01 Mei 2012

Inilah 3 Big Cap yang Menekan IHSG sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini kehilangan 9,63 poin. Posisi indeks saat ini berada di level 4.171,11.

Aksi jual saham-saham dengan kapitalisasi besar menjadi pemicunya. Tiga di antaranya yakni:

- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Saham TLKM turun 2,94% menjadi Rp 8.250 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak melepas saham ini adalah Andalan Artha senilai Rp 16,55 miliar, Macquarie Capital senilai Rp 15,73 miliar, dan Nomura Indonesia senilai Rp 5,04 miliar.

- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Saham BBRI turun 1,50% menjadi Rp 6.550 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak melepas saham ini adalah Credit Suisse senilai Rp 33,01 miliar, UBS Securities senilai Rp 25,77 miliar, dan Bahana Securities senilai Rp 19,64 miliar.

- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Saham BMRI turun 0,68% menjadi Rp 7.350 di sesi I. Sejumlah broker yang paling banyak melepas saham ini adalah Andalan Artha senilai Rp 25,82 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 11,10 miliar, dan Sinarmas Sekuritas senilai Rp 9,26 miliar. 

Kamis, 26 April 2012

AKSI EMITEN ANTM Jajaki Utang US$ 1,3 Miliar

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjajaki pinjaman baru senilai US$ 1,3 miliar ke sejumlah perbankan ekspor. Utang tersebut akan dipakai untuk menyokong proyek Smelter Grade Alumina (SGA) di wilayah Kalimantan Barat.
Manajemen ANTM telah bernegosiasi dengan beberapa lembaga keuangan asing. "Kami sudah bertemu JBIC (Japan Bank for International Cooperation). Kami juga akan mengunjungi ECA (Export Credit Agency) di Eropa dan Asia bagian utara," ujar Djaja Tambunan, Direktur Keuangan ANTM, Kamis (26/4).
ANTM masih sendirian menggarap proyek senilai
US$ 1 miliar itu, setelah calon mitra asal China, Hangzhou Jinjiang Group Co Ltd (HJG), mengundurkan diri.
Untuk mendanai proyek SGA, kata Djaja, porsi ekuitas dan utang masing-masing 35% dan 65% dari nilai total proyek. Ini berarti perseroan membutuhkan dana US$ 780 juta atau Rp 7 triliun. ANTM masih mendekati beberapa calon investor untuk bermitra di proyek yang bakal dimulai pada tahun depan ini.
Untuk tahun ini, perseroan fokus ke pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur (FeNi Haltim) senilai US$ 1,6 miliar. Di proyek ini, ANTM juga akan membangun pembangkit listrik. Jadi, komposisi pendanaannya, US$ 1 miliar untuk pabrik dan US$ 600 juta untuk menyokong proyek pembangkit listrik.
Manajemen ANTM siap menggandeng PT Perusahaan Listrik Negara di proyek pembangkit listrik. Perseroan berniat membangun pembangkit listrik tenanga uap (PLTU) berkapasitas 3x30 mega watt (MW) dan pembangkit listrik tenaga disel (PLTD) berkapasitas 10x17 MW.
Di pembangunan pabrik feronikel FeNi Haltim, ANTM akan menarik pendanaan dari sejumlah lembaga keuangan. Handaru Bimo Amoro, Investor Relations ANTM, menyatakan, perseroan juga mencari pinjaman senilai US$ 650 juta ke sejumlah lembaga kredit ekspor (ECA). "Saat ini kami fokus memenuhi dana US$ 1 miliar, itu tanpa PLN," kata dia. Porsi kas dan utang masing-masing 35% dan 65% dari nilai proyek itu. Proyek FeNi Haltim ditargetkan bisa terlaksana tahun ini.
Manajemen ANTM memprediksi pendapatan di sepanjang kuartal pertama tahun ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Djaya, pendapatan kemungkinan menyusut seirama dengan penurunan produksi akibat renovasi, perbaikan, dan modernisasi pabrik Feronikel (FeNi II) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. "Selain itu harga feronikel dan emas di kuartal pertama lebih rendah dibandingkan tahun lalu," kata Djaya.
Untuk menekan penurunan kinerja, ANTM menempuh beberapa strategi, seperti meningkatkan ekspor biji nikel dan efisiensi. "Walaupun bisa berpengaruh ke pendapatan, tapi untuk laba bersih akan sama seperti tahun lalu karena ada efisiensi," ujar Djaya.
ANTM berharap tahun ini memproduksi 18.000 ton nikel dalam feronikel, turun 8% dari tahun lalu. Harga ANTM, Kamis (26/4) tidak berubah dari Rp 1.730 per saham.

Selasa, 24 April 2012

Mengekor Wall Street, Bursa Asia Tampil Sumringah

TOKYO. Mayoritas bursa saham Asia tampil sumringah pada perdagangan Rabu (25/4). Indeks acuan bursa regional pun rebound untuk pertama kali, setelah empat hari terbenam.

Laju pasar Asia seirama dengan bursa Wall Street yang ditutup menguat, semalam. Pasar saham regional menguat lantaran kinerja keuangan beberapa emiten menunjukkan hasil gemilang menggembirakan.
Apalagi, data penjualan rumah di AS menunjukkan sinyal-sinyal pasar perumahan sudah mulai stabil. Kondisi tersebut dinilai akan mendongkrak prospek kinerja eksportir di kawasan Asia.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4% ke posisi 123,70 pada pukul 09.32 waktu Tokyo. Sekitar lima saham reli berbanding setiap satu saham yang turun. Sementara, indeks Nikkei 225 melaju 1,06%, lalu indeks Kospi naik 0,48%, dan indeks S&P/ASX 200 reli 0,18%.

Saham produsen barang elektronik terbesar di Jepang, Sony Corp. yang maju 1%, menjadi salah satu saham penyokong laju indeks. Selain juga, Samsung Electronics Co. yang reli 1,3% di Seoul. Saham ini menguat setelah kompetitornya, Apple Inc mencatatkan kenaikan laba hampir dua kali lipat di kuartal terakhir.

"Saat ini, tren pemulihan pendapatan ini dilihat baik di Jepang dan AS, sehingga menopang pasar. AS masih dalam tahap pemulihan ekonomi yang ringan," kata Hiroichi Nishi, manajer ekuitas di SMBC Nikko Securities Inc., Tokyo.

Reksadana Saham Syariah Tancap Gas

Produk reksadana saham berbasis syariah tancap gas. Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk itu tumbuh lebih dari 5,62% selama sebulan terakhir. Bahkan, ada reksadana saham syariah yang mencetak kenaikan NAB melampaui 7%.
Tengok saja, NAB reksadana Mandiri Investa Atraktif Syariah yang dalam 30 hari terakhir hingga 24 Januari lalu, tumbuh 6,71%. Kenaikan NAB Manulife Syariah Sektoral Amanah lebih tinggi lagi yaitu 6,98%. Yang mencetak NAB tertinggi adalah Cipta Syariah Equity sebesar 7,39%.
NAB reksadana saham syariah melaju kencang, membuntuti kenaikan indeks Jakarta Islamic Index (JII). Selama sebulan terakhir, JII menanjak 5,84%. Bahkan, Selasa (24/1), JII memperbarui rekor tertingginya selama sebulan di posisi 570,54.
Putut Andanawarih, Direktur Manulife Asset Management mengatakan, kunci keberhasilan kinerja Manulife Syariah Sektoral Amanah terletak pada pemilihan saham berbasis syariah yang tepat. "Sebagian besar dana dialokasikan ke saham konsumer. Ternyata hasilnya memuaskan," kata Putut.
Selain konsumer, saham pilihan Manulife adalah saham sektor properti dan komoditas. Per akhir Desember 2011, komposisi untuk reksadana Manulife Syariah Sektoral Amanah adalah 93% saham dan sisanya pasar uang.
Sedangkan, Mandiri Investa Atraktif Syariah bisa melaju karena ditopang oleh saham sektor komoditas. Andreas Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi mengatakan, performa saham sektor komoditas baik sehingga kinerjanya melonjak.
Pilihan aset dasar bagi reksadana saham berbasis syariah memang cukup terbatas. Terdapat sejumlah kriteria yang harus dimiliki agar saham tersebut bisa masuk kategori saham syariah. Intinya, semua saham yang memenuhi standar syariah dan masuk dalam daftar JII.
Terkerek komoditas
Putut yakin prospek reksadana saham syariah ke depan masih menarik. Dia beralasan, kategori syariah membantu menyaring emiten. Hanya saham emiten dengan fundamental yang kuat dan sehat yang bisa masuk ke dalam daftar saham syariah. "Secara tidak langsung sudah tersaring saham-saham pilihan yang terbaik," katanya.
Tapi hingga kini reksadana saham syariah masih menghadapi tantangan berupa pola pikir investor yang selalu mengidentikkan produk ini dengan agama. Padahal, "Sejauh sesuai dengan minat dan tujuan investasi, kenapa tidak?" tandas dia.
Analis Infovesta Edbert Suryajaya memaklumi lonjakan reksadana saham syariah lantaran JII sebagai acuan nya pun menanjak dalam sebulan terakhir. Ia beralasan, reksadana saham berbasis syariah tidak bisa sembarangan masuk ke setiap sektor.
Edbert memperkirakan saham di sektor komoditas seperti perkebunan dan tambang berkontribusi terhadap kenaikan NAB reksadana syariah dalam sebulan terakhir.
Ia menyarankan, dalam kondisi bursa saham yang relatif tinggi saat ini, ada baiknya investor memanfaatkan waktu untuk melakukan valuasi ulang atas saham-saham yang menjadi racikan reksadana saham syariah pilihannya. Investor juga patut menimbang prospek sektor pilihan pada reksadana ini. 
 

Senin, 23 April 2012

IHSG Tetap Melaju di Jalur Hijau

Bursa Asia memerah karena kecemasan investor terhadap meluasnya krisis utang di Eropa memicu tekanan jual. Untunglah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu bertahan di jalur hijau dan menguat 0,81% ke level 2.926,86.
Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (29/4), saham-saham yang muncul sebagai pengerek indeks adalah saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang melambung 4,72% menjadi Rp 5.450, PT Astra International Tbk (ASII) naik1,21% menjadi Rp 46.150, dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melejit 19,91% menjadi Rp 13.850. Lalu, PT Bank Danamon Tbk (BDMN) menanjak 2,73% menjadi Rp 5.650 dan PT indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik 2,01% menjadi Rp 15.200.
Sementara itu, saham-saham yang mengalami tekanan jual adalah PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang merosot 19,79% menjadi Rp 1.120, PT Astra Agro Lestari tbk (AALI) turun 1,99% menjadi Rp 22.200, dan PT Gudang Garam tbk (GGRM) turun 0,54% menjadi Rp 27.200. Selain itu, saham PT International Nickel Tbk (INCO) juga melorot 1,05% menjadi Rp 4.725 dan PT Indosat tbk (ISAT) turun 0,85% menjadi Rp 5.800.
Total volume saham yang diperdagangkan hari ini mencapai 6,84 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 4,24 triliun.
Indeks bursa Asia rata-rata ditutup melemah. Indeks Hang Seng turun 0,81% ke level 20.778,92, indeks Shanghai melorot 1,10% ke level 2.868,43, dan indeks Kospi turun 0,32% ke level 1.728,42. Sedangkan indeks Strait Times menguat 0,74% ke level 2.953,71.

Selasa, 17 April 2012

Saham ANTM Melaju Mengikuti Harga Emas Dunia

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) hari ini menunjukkan pergerakan positif. Sebelumnya, saham ANTM sempat naik 1,1% menjadi Rp 1.820. Namun per pukul 15.02, saham ANTM berada di posisi Rp 1.810 atau naik 0,56%.

Data Bloomberg menunjukkan, tiga broker yang paling banyak memburu saham ini adalah: Nikko Securities senilai Rp 2 miliar, Credit Suisse Securities senilai Rp 1,95 miliar, dan AmCapital Indonesia senilai Rp 1,02 miliar.

Pergerakan saham ANTM hari ini sepertinya mengekor pergerakan harga emas dunia. Seperti yang diberitakan KONTAN sebelumnya, siang tadi, harga emas di pasar spot naik 0,9% menjadi US$ 1.654,90 per troy ounce. Ini merupakan level tertinggi dalam sepekan terakhir. Per pukul 14.24 waktu Singapura, harga emas berada di posisi US$ 1.651,83 per troy ounce. 

Jumat, 13 April 2012

Bukit Asam Considering Stock Split

State-owned coal miner PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) is studying a plan to split existing shares without any dilution in ownership.
“We are still assessing the plan to do a stock-split,” Hananto Budi Laksono, Bukit Tambang’s corporate secretary, said in a statement submitted to the Indonesia Stock Exchange (IDX) on Thursday.
Stock splits usually occur when a company’s share price has become too expensive for many investors.
Market capitalization and ownership will remain the same, but the prices and the number of shares owned will change.
Shares of Bukit Asam traded at Rp 20,000 at Thursday’s close, up 1.5 percent from the previous day. With a market capitalization of Rp 46.08 trillion, Bukit Asam saw its shares soaring 45.3 percent since Oct. 10, 2011. (mtq)